
Gol Nico Williams sempat membuat pendukung Spanyol bersorak dalam final Piala Dunia 2026 melawan Argentina. Namun, kegembiraan tersebut hanya berlangsung beberapa detik setelah wasit Slavko Vincic menganulir gol karena menilai terjadi pelanggaran dalam proses serangan.
Insiden itu terjadi pada menit ke-96 atau babak pertama perpanjangan waktu ketika skor masih imbang 0-0. Keputusan Vincic langsung memicu protes pemain Spanyol dan perdebatan karena kontak yang terjadi terlihat tidak terlalu keras.
Meski demikian, terdapat satu detail penting yang menjelaskan mengapa VAR tidak dapat mengubah keputusan tersebut: Vincic telah meniup peluit sebelum bola melewati garis gawang.
Pertandingan yang berlangsung di New York New Jersey Stadium itu akhirnya dimenangkan Spanyol dengan skor 1-0. Ferran Torres mencetak gol penentu pada menit ke-106 dan membawa La Roja meraih gelar Piala Dunia kedua setelah keberhasilan mereka pada 2010. Gol Nico Williams yang Dianulir
Momen kontroversial bermula dari serangan Spanyol melalui sisi kanan. Pedro Porro mengirimkan umpan silang ke kotak penalti Argentina yang diarahkan kepada Mikel Merino.
Merino mencoba mengontrol bola sambil membalikkan badan sebelum melepaskan tembakan. Emiliano “Dibu” Martínez berhasil menepis percobaan tersebut, tetapi bola pantul jatuh tepat di depan Nico Williams.
Williams bereaksi paling cepat. Winger Spanyol itu menyambar bola liar ke gawang Argentina yang sudah terbuka dan langsung berlari merayakan gol bersama rekan-rekannya.
Namun, wasit Slavko Vincic tidak mengesahkan gol tersebut. Ia menilai Merino lebih dahulu melakukan pelanggaran terhadap Nicolás Otamendi sebelum melepaskan tembakan yang menghasilkan bola pantul untuk Williams.
Tayangan ulang memperlihatkan kaki Merino mengenai dan menginjak bagian kaki Otamendi ketika keduanya berebut posisi. Kontak itulah yang menjadi dasar keputusan wasit untuk menghentikan permainan. l Nico Williams Dianulir?
Gol Nico Williams dianulir karena wasit menilai terdapat pelanggaran dalam fase serangan yang secara langsung menghasilkan peluang mencetak gol.
Merino memang tidak sedang melakukan tekel keras. Kontaknya terjadi ketika ia berusaha menerima umpan sambil membelakangi gawang. Namun, telapak kakinya terlihat mengenai kaki Otamendi dan menyebabkan bek Argentina tersebut kehilangan keseimbangan.
Dalam Laws of the Game, pelanggaran tidak harus selalu berupa benturan keras. Menginjak kaki lawan, menjegal, menendang atau melakukan kontak yang dianggap ceroboh tetap dapat dihukum dengan tendangan bebas langsung.
Karena pelanggaran terjadi sebelum Williams menyelesaikan bola ke gawang, seluruh rangkaian serangan setelah kontak tersebut dianggap tidak berlaku. Argentina kemudian mendapatkan tendangan bebas, sedangkan skor tetap 0-0.
Dasar keputusan Vincic dengan demikian bukan posisi offside, handball atau pelanggaran yang dilakukan Williams. Masalahnya berada pada tindakan Merino terhadap Otamendi beberapa detik sebelum bola masuk.
Mengapa VAR Tidak Membatalkan Keputusan Wasit?

Bagian inilah yang paling sering menimbulkan kebingungan.
VAR pada dasarnya dapat memeriksa situasi gol atau tidak gol, termasuk kemungkinan pelanggaran yang terjadi dalam fase serangan. Namun, dalam kejadian tersebut, Vincic disebut telah meniup peluit pelanggaran sebelum Nico Williams memasukkan bola.
Ketika peluit sudah dibunyikan, permainan secara resmi telah dihentikan. Apa pun yang terjadi setelah peluit tersebut bukan lagi bagian dari permainan aktif. Karena itu, bola yang kemudian masuk ke gawang tidak dapat disahkan sebagai gol.
IFAB memberikan prinsip yang jelas: apabila wasit meniup peluit sebelum bola melewati garis gawang, gol tidak dapat diberikan karena permainan sudah dihentikan. Bahkan ketika tayangan ulang menunjukkan bahwa wasit seharusnya menerapkan keuntungan, VAR tidak dapat menghidupkan kembali permainan yang telah berhenti. ain, persoalannya bukan sekadar apakah VAR melihat pelanggaran Merino atau tidak. Keputusan awal wasit untuk langsung menghentikan permainan telah membuat gol Williams tidak mungkin disahkan.
VAR juga tidak selalu meminta wasit melihat layar di pinggir lapangan. Pemeriksaan melalui ruang VAR dapat dilakukan tanpa on-field review apabila tidak ditemukan kesalahan yang jelas dan nyata atau ketika situasinya sudah tidak dapat dikoreksi akibat peluit yang lebih dahulu berbunyi. utusan Slavko Vincic Sudah Tepat?
Keputusan tersebut dapat dinilai dari dua sudut berbeda: dasar pelanggaran dan pengelolaan momen pertandingan.
Dari sisi aturan, terdapat kontak kaki Merino terhadap Otamendi. Vincic memiliki dasar untuk menganggap tindakan itu sebagai pelanggaran yang memengaruhi terciptanya peluang.
Namun, tingkat kontaknya dianggap ringan oleh sejumlah pengamat. Merino tidak melakukan tekel dari arah berbahaya dan Otamendi juga terlibat dalam duel posisi. Inilah yang membuat keputusan tersebut dinilai terlalu ketat oleh kubu Spanyol.
Perdebatan yang lebih besar justru muncul karena wasit tidak menunda peluitnya.
Dalam situasi serangan yang sangat menjanjikan, perangkat pertandingan biasanya disarankan membiarkan permainan berlanjut beberapa detik. Pendekatan tersebut memberi kesempatan kepada VAR untuk memeriksa seluruh rangkaian apabila bola akhirnya masuk ke gawang.
Apabila Vincic membiarkan Williams mencetak gol terlebih dahulu, VAR dapat memeriksa kontak Merino dan menentukan apakah pelanggaran tersebut cukup jelas untuk membatalkan gol. Namun, karena peluit sudah berbunyi sebelum penyelesaian Williams, pilihan itu tidak lagi tersedia.
Karena itu, keputusan ini tidak selalu dapat disebut sepenuhnya salah berdasarkan aturan. Hal yang dapat diperdebatkan adalah apakah kontak Merino cukup kuat untuk dihukum dan apakah Vincic seharusnya menunda peluitnya.
Insiden Terjadi ketika Spanyol Mulai Menguasai Pertandingan

Final berjalan ketat sejak awal. Spanyol lebih dominan dalam penguasaan bola dan lebih sering membawa permainan ke area pertahanan Argentina. Sebaliknya, Argentina bertahan lebih dalam dan mencoba menyerang melalui transisi cepat.
Skor tetap 0-0 sampai waktu normal berakhir. Argentina kemudian harus bermain dengan sepuluh pemain setelah Enzo Fernández menerima kartu kuning kedua karena pelanggarannya terhadap Pau Cubarsí pada masa tambahan waktu babak kedua. mlah pemain membuat Spanyol semakin agresif pada babak perpanjangan waktu. Gol Williams pada menit ke-96 tampaknya menjadi hasil dari tekanan tersebut, tetapi keputusan pelanggaran membuat pertandingan kembali ke titik awal.
Spanyol tidak kehilangan fokus. Sekitar sepuluh menit kemudian, Ferran Torres akhirnya mencetak gol sah yang menentukan kemenangan La Roja. Nico Williams turut terlibat dalam proses serangan yang menghasilkan gol penentu tersebut. it Menunjukkan Batas Kekuasaan VAR
Insiden ini menjadi contoh bahwa VAR tidak dapat memperbaiki setiap keputusan di lapangan.
Teknologi video membantu wasit meninjau gol, penalti, kartu merah langsung dan kesalahan identitas. Namun, VAR tetap bekerja di dalam batas Laws of the Game dan tidak bisa mengabaikan fakta bahwa permainan telah dihentikan oleh peluit.
Banyak penonton menganggap semua kejadian kontroversial dapat diselesaikan melalui tayangan ulang. Kenyataannya, waktu ketika wasit membuat keputusan juga sangat menentukan. Peluit yang terlalu cepat dapat menutup kemungkinan untuk menerapkan keuntungan atau mengesahkan peluang yang terjadi setelahnya.
Hal tersebut pula yang menjelaskan mengapa gol Nico Williams tetap dianulir meskipun kontak Merino terhadap Otamendi terlihat ringan dalam beberapa tayangan ulang.
Spanyol Tetap Menutup Final dengan Gelar Juara
Kontroversi gol Nico Williams tidak mengubah hasil akhir. Spanyol tetap menemukan gol kemenangan melalui Ferran Torres dan menutup final dengan skor 1-0 atas Argentina.
Kemenangan itu memberikan gelar Piala Dunia kedua bagi Spanyol sekaligus mengakhiri penantian selama 16 tahun sejak generasi Andrés Iniesta menjadi juara pada 2010. Argentina gagal mempertahankan trofi yang mereka menangkan pada 2022. melihat perjalanan turnamen melalui panduan lengkap Piala Dunia 2026, termasuk format kompetisi, peserta dan perkembangan menuju pertandingan final.
Perjalanan kedua finalis dari fase gugur juga dapat ditelusuri melalui jadwal babak 16 besar Piala Dunia 2026.
Sementara itu, pembahasan pasar pertandingan, jenis taruhan dan cara membaca peluang tersedia dalampanduan taruhan Piala Dunia 2026. Informasi akses dan artikel olahraga terbaru juga dapat ditemukan melalui platform utama BC Game.
Kesimpulan
Gol Nico Williams dianulir karena Slavko Vincic menilai Mikel Merino menginjak kaki Nicolás Otamendi dalam proses serangan. Pelanggaran tersebut terjadi sebelum Williams memanfaatkan bola pantul dari penyelamatan Emiliano Martínez.
Keputusan itu menjadi semakin kontroversial karena kontaknya terlihat ringan. Namun, faktor paling menentukan adalah peluit Vincic yang berbunyi sebelum bola masuk. Setelah permainan dihentikan, VAR tidak memiliki dasar untuk mengesahkan gol yang terjadi sesudah peluit.
Insiden tersebut memperlihatkan bahwa VAR bukan pengganti wasit dan tidak memiliki kekuasaan tanpa batas. Keputusan waktu nyata, termasuk kapan peluit dibunyikan, tetap dapat menentukan apakah sebuah gol bisa ditinjau, dibatalkan atau bahkan tidak pernah tercatat sebagai gol.

Teddy Rudiawan adalah seorang Penulis Artikel BC Game yang berpengalaman, berspesialisasi dalam analisis olahraga dan sepak bola, dikenal mampu mengubah data pertandingan yang kompleks menjadi insight menarik dan mudah dipahami, membantu pembaca menangkap dinamika permainan, nilai taruhan, serta tren performa dengan jelas dan tepat, sekaligus mencerminkan energi serta karakter data-driven dari brand BC Game.