Hasil Argentina vs Swiss 3-1: Dua Gol Telat Kirim Albiceleste ke Semifinal
Argentina mengalahkan Swiss 3-1 setelah extra time. Gol Álvarez dan Lautaro membawa La Albiceleste menghadapi Inggris di semifinal.

Argentina merebut tiket terakhir ke semifinal Piala Dunia FIFA 2026 setelah menaklukkan Swiss 3-1 melalui babak tambahan waktu di Kansas City Stadium, 11 Juli 2026.
Skor akhir tersebut terlihat meyakinkan, tetapi tidak sepenuhnya menggambarkan jalannya pertandingan. Swiss mampu menahan sang juara bertahan dalam posisi 1-1 hingga menit ke-111 meskipun bermain dengan sepuluh pemain sejak menit ke-72.
Alexis Mac Allister membawa Argentina unggul cepat melalui sundulan pada menit ke-10. Dan Ndoye membalas pada menit ke-67 sebelum Breel Embolo menerima kartu kuning kedua dalam sebuah keputusan yang menjadi titik kontroversial pertandingan.
Ketika adu penalti mulai terlihat mungkin terjadi, Julián Álvarez memecahkan kebuntuan melalui tembakan jarak jauh pada menit ke-112. Lautaro Martínez kemudian menyempurnakan kemenangan Argentina pada menit 120+1.
Kemenangan ini menjaga peluang Argentina untuk menjadi negara pertama yang mempertahankan gelar Piala Dunia sejak Brasil melakukannya pada 1962. Namun, penampilan Swiss membuktikan bahwa skor dan tingkat kesulitan pertandingan tidak selalu menceritakan hal yang sama.
Ringkasan Hasil Argentina vs Swiss
| Informasi | Detail |
|---|---|
| Pertandingan | Argentina vs Swiss |
| Kompetisi | Perempat final Piala Dunia 2026 |
| Tanggal | 11 Juli 2026 |
| Stadion | Kansas City Stadium |
| Skor babak pertama | Argentina 1-0 Swiss |
| Skor setelah 90 menit | 1-1 |
| Skor akhir | Argentina 3-1 Swiss |
| Gol Argentina | Alexis Mac Allister 10’, Julián Álvarez 112’, Lautaro Martínez 120+1’ |
| Gol Swiss | Dan Ndoye 67’ |
| Kartu merah | Breel Embolo 72’ |
| Status | Argentina lolos ke semifinal |
| Lawan berikutnya | Inggris |
Argentina Unggul Cepat lewat Skema Bola Mati

Kedua tim tidak membutuhkan waktu lama untuk meningkatkan tempo. Swiss berusaha menekan distribusi awal Argentina, sedangkan pasukan Lionel Scaloni menggunakan kombinasi umpan pendek untuk mengundang lawan keluar dari blok pertahanannya.
Gol pembuka tercipta ketika pertandingan baru berjalan sepuluh menit. Lionel Messi mengirim sepak pojok ke area tiang dekat dan Mac Allister datang dengan waktu yang tepat untuk membelokkan bola melalui sundulan. Gregor Kobel tidak mampu menjangkau bola yang bergerak ke sudut jauh.
Itu menjadi pertama kalinya Swiss tertinggal sepanjang turnamen. Situasi tersebut menguji sebuah tim yang sebelumnya lebih sering bermain dengan kondisi skor seimbang atau berada dalam posisi unggul.
Gol Mac Allister juga memperlihatkan variasi serangan Timnas Argentina. Ketika permainan terbuka belum menghasilkan ruang, kualitas eksekusi bola mati Messi dan agresivitas gelandang dalam menyerang kotak penalti menjadi solusi.
Swiss tidak kehilangan arah setelah kebobolan. Djibril Sow mendapatkan ruang untuk melepaskan tembakan dari luar kotak penalti pada menit ke-20, tetapi Emiliano Martínez mampu membaca arah bola dengan baik.
Selepas peluang itu, pertandingan berubah menjadi duel fisik di lini tengah. Granit Xhaka dan Remo Freuler berusaha mengganggu ritme Enzo Fernández serta Leandro Paredes. Kedua tim tidak segan menghentikan progresi lawan melalui kontak langsung.
Argentina masih lebih banyak memegang bola, tetapi mereka tidak memiliki cukup ruang untuk mengembangkan serangan melalui area tengah. Messi beberapa kali turun lebih dalam untuk menerima bola, sementara Álvarez bergerak di antara dua bek tengah Swiss.
Struktur pertahanan Swiss tetap rapat. Skor 1-0 untuk Argentina pun bertahan hingga turun minum.
Swiss Mengubah Pertandingan pada Babak Kedua

Swiss meningkatkan keberanian mereka setelah jeda. Murat Yakin mendorong pemainnya untuk menekan lebih tinggi dan mengirim lebih banyak pemain ke sekitar kotak penalti Argentina.
Pada menit ke-50, Ndoye hampir menyamakan skor setelah memperoleh ruang untuk melepaskan tembakan. Lisandro Martínez melakukan tekel presisi untuk menghentikan peluang tersebut sebelum bola mencapai gawang.
Tidak lama kemudian, Breel Embolo mendapatkan kesempatan melalui sundulan. Emiliano Martínez kembali bereaksi cepat dan menggagalkan peluang penyerang Swiss itu.
Tekanan Swiss akhirnya membuahkan hasil pada menit ke-67. Ndoye bertukar operan dengan Ricardo Rodríguez di sisi kiri, bergerak memasuki kotak penalti, lalu melepaskan tembakan dari sudut sempit yang melewati sela kaki Martínez.
Skor berubah menjadi 1-1. Gol tersebut bukan muncul secara kebetulan. Swiss telah meningkatkan intensitas serangan sejak babak kedua dimulai dan secara konsisten menguji sisi pertahanan Argentina.
Perjalanan Timnas Swiss sampai perempat final juga tidak dibangun hanya melalui permainan bertahan. Mereka mampu mengubah tempo, menyerang melalui sisi lapangan, dan menggunakan kekuatan fisik untuk mengganggu tim dengan kemampuan teknik lebih tinggi.
Setelah gol Ndoye, momentum pertandingan sempat sepenuhnya berpindah. Argentina terlihat kehilangan kontrol, sementara pendukung Swiss mulai percaya bahwa semifinal pertama dalam sejarah mereka bisa menjadi kenyataan.
Kartu Merah Embolo Mengubah Arah Pertandingan

Lima menit setelah Swiss menyamakan skor, terjadi insiden yang menjadi titik balik utama.
Embolo terjatuh di dalam kotak penalti Argentina ketika berusaha melewati lawan. Wasit pada awalnya memberikan kartu kuning kepada Paredes, tetapi proses VAR menemukan adanya kekeliruan identitas dalam keputusan tersebut.
Setelah peninjauan, kartu untuk Paredes dibatalkan. Embolo justru dinilai melakukan simulasi dan menerima kartu kuning kedua. Penyerang Swiss itu harus meninggalkan lapangan pada menit ke-72.
Keputusan tersebut memancing protes keras dari Murat Yakin dan para pemain Swiss. Dari sudut pandang Swiss, Embolo sedang berusaha menghindari kontak, bukan sengaja mencari penalti. Namun, wasit mempertahankan keputusan setelah proses peninjauan selesai.
Kehilangan Embolo memaksa Swiss mengubah rencana pertandingan. Yakin memasukkan Miro Muheim, Zeki Amdouni, dan Silvan Widmer untuk menjaga struktur tim sekaligus mempertahankan ancaman serangan balik.
Swiss kemudian lebih sering bertahan dalam bentuk 4-4-1. Ndoye, Sow, dan Fabian Rieder ditarik keluar, sedangkan para pemain yang tersisa mempersempit jarak antarlini di depan Kobel.
Argentina praktis menguasai sebagian besar wilayah permainan setelah kartu merah tersebut. Meski demikian, keunggulan jumlah pemain tidak otomatis membuat mereka mudah menciptakan peluang bersih.
Argentina Menguasai Bola, tetapi Swiss Menutup Ruang
Masalah utama Argentina terletak pada cara mereka membongkar blok rendah. Swiss tidak lagi menekan tinggi, sehingga Messi dan rekan-rekannya tidak memperoleh banyak ruang di belakang garis pertahanan.
Argentina mengedarkan bola dari satu sisi ke sisi lainnya. Nahuel Molina dan Nicolás Tagliafico bergerak lebih tinggi, sementara Rodrigo De Paul berusaha membuat keunggulan jumlah pemain di sisi kanan.
Namun, banyak serangan Argentina berakhir dengan umpan silang atau tembakan dari luar kotak penalti. Xhaka dan Freuler bekerja keras menutup jalur umpan menuju Messi, sedangkan Manuel Akanji dan Nico Elvedi disiplin menjaga area di depan Kobel.
Messi hampir mengakhiri pertandingan pada masa tambahan waktu babak kedua. Ia melepaskan tembakan keras dari luar kotak penalti, tetapi bola melintas tipis di samping gawang.
Swiss berhasil bertahan sampai waktu normal selesai. Skor 1-1 membuat laga harus dilanjutkan ke extra time.
Extra Time: Almada Menambah Dimensi Baru
Lionel Scaloni menarik Enzo Fernández dan memasukkan Thiago Almada pada awal babak tambahan waktu. Pergantian ini membuat Argentina memiliki satu pemain tambahan yang berani membawa bola serta menyerang ruang sempit.
Efeknya langsung terlihat. Almada bergerak di antara gelandang dan bek Swiss, memaksa pemain lawan keluar dari posisinya. Salah satu tembakannya bahkan menghantam tiang gawang Kobel.
Swiss tetap bertahan dengan konsentrasi tinggi. Mereka mengurangi risiko ketika menguasai bola dan hanya menyerang apabila memiliki jalur yang benar-benar terbuka.
Babak tambahan waktu pertama berakhir tanpa gol. Swiss tinggal 15 menit lagi dari adu penalti, sebuah skenario yang dapat mengubah pertandingan menjadi jauh lebih sulit diprediksi bagi Argentina.
Namun, beban bermain dengan sepuluh pemain mulai terlihat. Jarak antarpemain Swiss melebar dan tekanan terhadap pemegang bola tidak lagi secepat sebelumnya.
Tembakan Álvarez Memecahkan Pertahanan Swiss

Getty Images
Kebuntuan akhirnya pecah pada menit ke-112.
José Manuel López yang baru masuk memberikan bola kepada Álvarez di luar kotak penalti. Penyerang Argentina tersebut mengambil ruang sebelum melepaskan tembakan keras melengkung ke sudut atas gawang.
Kobel terbang dengan jangkauan penuh, tetapi tidak mempunyai kesempatan untuk menghentikannya. Argentina berbalik unggul 2-1.
Gol itu datang ketika serangan melalui kombinasi pendek tidak lagi menghasilkan ruang. Álvarez memilih solusi individual—dan kualitas eksekusinya mengubah pertandingan.
Pergerakan tanpa bola, kesabaran melawan blok rendah, serta keberanian melepaskan tembakan jarak jauh menjadi bagian penting dari kunci Argentina mengalahkan Swiss di perempat final Piala Dunia 2026.
Bagi Swiss, gol tersebut terasa sangat berat. Mereka telah bertahan hampir 40 menit dengan sepuluh pemain dan hanya berjarak beberapa menit dari adu penalti.
Lautaro Martínez Mengunci Kemenangan

Swiss tidak lagi mempunyai pilihan selain keluar menyerang. Perubahan itu menciptakan ruang yang sepanjang pertandingan berusaha mereka tutup.
Pada menit 120+1, Almada mendapatkan kesempatan di kotak penalti. Tembakannya masih mampu dihentikan Kobel, tetapi bola muntah jatuh ke jalur Lautaro Martínez.
Lautaro menyelesaikan peluang tersebut dengan tenang dan mengubah skor menjadi 3-1.
Gol ketiga membuat kemenangan Argentina terlihat lebih nyaman di papan skor. Kenyataannya, mereka baru memastikan keunggulan pada delapan menit terakhir dari pertandingan selama 120 menit.
Swiss memberikan perlawanan yang jauh lebih kuat daripada yang ditunjukkan margin dua gol.
Analisis Taktik Argentina vs Swiss
Argentina Menggunakan Messi sebagai Penghubung Bebas
Argentina memulai pertandingan dengan formasi dasar 4-4-2. Namun, posisinya berubah ketika menguasai bola. Messi bergerak bebas dari lini depan menuju ruang antarlini, sementara Álvarez menjaga kedalaman dengan menekan bek tengah Swiss.
Gerakan Messi membuat Argentina memiliki pemain tambahan di lini tengah. Masalahnya, Swiss merespons dengan mempersempit ruang di sekitar Xhaka dan Freuler. Ketika Messi turun, salah satu gelandang mengikuti jalur umpannya tanpa harus meninggalkan struktur.
Karena itu, Argentina lebih efektif melalui bola mati dan tembakan jarak jauh daripada kombinasi terbuka di dalam kotak penalti.
Swiss Berhasil Menyerang Area di Samping Gelandang Argentina
Ketika memperoleh bola, Swiss tidak selalu membangun serangan secara perlahan. Mereka mencari Ndoye dan Sow lebih cepat sebelum pertahanan Argentina kembali terbentuk.
Gol penyeimbang memperlihatkan pola tersebut. Kombinasi Ndoye dan Rodríguez menarik pertahanan Argentina ke sisi lapangan sebelum Ndoye masuk melalui sudut sempit.
Keberanian Swiss pada awal babak kedua menjadi alasan Argentina kehilangan kontrol. Bahkan Scaloni mengakui timnya kesulitan menghadapi kekuatan fisik lawan.
Kartu Merah Mengubah Kontrol Wilayah, Bukan Langsung Menghasilkan Gol
Setelah Embolo keluar, Argentina menguasai wilayah pertandingan. Namun, Swiss mampu menutup ruang tengah dan memaksa lawan melakukan sirkulasi di area luar.
Argentina baru menemukan perbedaan ketika pemain Swiss mulai kelelahan dan Almada hadir sebagai pembawa bola tambahan. Tembakan Álvarez kemudian menjadi solusi terhadap pertahanan yang tidak bisa dibongkar melalui operan pendek.
Mengapa Skor 3-1 Bisa Menyesatkan?
Ada tiga alasan hasil akhir tidak sepenuhnya menggambarkan keseimbangan pertandingan:
- Skor masih 1-1 sampai menit ke-111.
- Swiss bermain dengan sepuluh pemain sejak menit ke-72.
- Gol ketiga Argentina tercipta ketika Swiss harus meninggalkan struktur bertahannya untuk mengejar skor.
Argentina pantas menang karena memanfaatkan keunggulan jumlah pemain dan mempertahankan tekanan sampai akhir. Namun, menyebut pertandingan ini sebagai kemenangan mudah akan mengabaikan kualitas perlawanan Swiss.
Pasukan Murat Yakin menjadi tim pertama yang benar-benar membuat Argentina kehilangan kontrol dalam periode panjang pertandingan ini. Mereka juga memaksa sang juara bertahan menggunakan hampir seluruh kedalaman skuadnya.
Akhir Perjalanan Bersejarah Swiss
Kekalahan ini mengakhiri perjalanan terbaik Swiss di Piala Dunia sejak 1954. Mereka mencapai delapan besar setelah menunjukkan organisasi permainan yang kuat dan keseimbangan antara pemain berpengalaman dengan generasi baru.
Swiss juga harus menghadapi Argentina tanpa Johan Manzambi, pencetak gol terbanyak mereka di turnamen dengan tiga gol dan dua assist, yang absen karena cedera.
Tanpa salah satu pemain menyerang terpentingnya, Swiss tetap mampu menyamakan skor dan membawa Argentina ke extra time. Itu menjelaskan mengapa kekecewaan setelah pertandingan bercampur dengan rasa bangga.
Kartu merah Embolo tentu akan terus diperdebatkan. Akan tetapi, satu keputusan tidak menghapus kualitas kampanye Swiss secara keseluruhan.
Argentina Bertemu Inggris di Semifinal
Argentina akan menghadapi Inggris pada semifinal di Atlanta, Rabu, 15 Juli 2026. Pertandingan tersebut menjadi pertemuan pertama Lionel Messi dengan Inggris di ajang Piala Dunia.
Kedua tim mencapai semifinal dengan cara yang serupa. Inggris membutuhkan extra time untuk menaklukkan Norwegia 2-1, sedangkan Argentina bermain selama 120 menit sebelum mengalahkan Swiss.
Pembaruan waktu pertandingan dan susunan bracket dapat dilihat melalui Jadwal Babak Semi Final Piala Dunia FIFA 2026.
Kebugaran akan menjadi faktor besar karena Argentina dan Inggris sama-sama datang dari laga panjang. Scaloni juga perlu mempertimbangkan efektivitas timnya ketika menghadapi blok pertahanan rapat, sedangkan Inggris harus menemukan cara membatasi kebebasan Messi di antara lini.
Catatan untuk Evaluasi Pasar Taruhan
Hasil pertandingan ini kembali menunjukkan perbedaan antara pasar 1X2 selama 90 menit dan pasar tim yang lolos.
Argentina tidak memenangkan pertandingan dalam waktu normal karena skor masih 1-1 setelah 90 menit. Kemenangan 3-1 baru tercipta melalui extra time. Karena itu, pasar “Argentina menang” pada 1X2 reguler dapat memiliki penyelesaian berbeda dari pasar “Argentina lolos”.
Penjelasan mengenai handicap, over/under, hasil waktu normal, dan pasar kelolosan dapat dipelajari melalui Bursa Taruhan Piala Dunia 2026.
Untuk pertandingan semifinal, evaluasi sebaiknya mempertimbangkan:
- Durasi pemulihan setelah kedua tim bermain selama 120 menit.
- Kebugaran pemain inti dan kemungkinan rotasi.
- Perbedaan pasar waktu normal dengan tim yang lolos.
- Konfirmasi susunan pemain sebelum pertandingan.
- Pergerakan odds setelah informasi tim diumumkan.
Pembaca dapat menggunakan Akses ke Situs BC Game untuk melihat pasar yang tersedia. Tetapkan batas bermain, periksa aturan penyelesaian setiap pasar, dan jangan menjadikan hasil satu pertandingan sebagai jaminan untuk pertandingan berikutnya.
Susunan Pemain Argentina vs Swiss
Argentina (4-4-2): Emiliano Martínez; Nicolás Tagliafico, Lisandro Martínez, Cristian Romero, Nahuel Molina; Alexis Mac Allister, Enzo Fernández, Leandro Paredes, Rodrigo De Paul; Julián Álvarez, Lionel Messi.
Pelatih: Lionel Scaloni.
Swiss (4-2-3-1): Gregor Kobel; Ricardo Rodríguez, Manuel Akanji, Nico Elvedi, Denis Zakaria; Granit Xhaka, Remo Freuler; Djibril Sow, Fabian Rieder, Dan Ndoye; Breel Embolo.
Pelatih: Murat Yakin.
Kesimpulan
Hasil Argentina vs Swiss berakhir 3-1 setelah babak tambahan waktu. Mac Allister memberikan keunggulan awal, tetapi Ndoye membalas dan membuat pertandingan terbuka kembali.
Kartu merah Embolo mengubah struktur permainan. Meski demikian, Swiss mampu mempertahankan skor 1-1 hingga Álvarez mencetak gol pada menit ke-112. Lautaro menambahkan gol ketiga ketika Swiss mengambil risiko terakhir untuk mengejar kedudukan.
Argentina melaju, tetapi tidak dengan langkah ringan. Mereka dipaksa mengandalkan kesabaran, kualitas bangku cadangan, dan satu tembakan luar biasa untuk menyingkirkan lawan yang bermain dengan sepuluh pemain.
Skor akhirnya tegas. Pertandingannya tidak pernah sesederhana itu.
Penulis Artikel Ini:

Rizky Santoso adalah seorang analis dan penulis konten profesional di industri iGaming dengan fokus khusus pada judi bola online dan taruhan olahraga internasional. Dengan pengalaman lebih dari 7 tahun dalam dunia sportsbook digital, Rizky dikenal karena pendekatannya yang berbasis data, transparan, dan mudah dipahami pemain Indonesia.
Ia telah meliput berbagai kompetisi sepak bola dunia serta tren taruhan online, menjadikannya salah satu sumber terpercaya bagi pembaca yang mencari panduan dan analisis tajam.
Visi & Komitmen: Sebagai bagian dari tim editorial BC Game, Rizky berkomitmen menghadirkan informasi yang akurat, terpercaya, dan berorientasi edukasi bagi komunitas pemain Indonesia.