
Inggris dan Argentina kembali dipertemukan di panggung Piala Dunia setelah menunggu lebih dari dua dekade. Kali ini, keduanya akan berhadapan pada semifinal Piala Dunia 2026 di Atlanta, dengan satu tiket menuju partai final sebagai taruhannya.
The Three Lions mencapai empat besar setelah mengalahkan Norwegia 2-1. Argentina menyusul beberapa jam kemudian dengan kemenangan 3-1 atas Swiss melalui babak tambahan, setelah skor 1-1 bertahan selama 90 menit.
Namun, daya tarik pertandingan ini jauh melampaui hasil di lapangan. Inggris vs Argentina merupakan rivalitas lintas benua yang dibentuk oleh gol bersejarah, keputusan wasit kontroversial, kartu merah, adu penalti, dan sejumlah momen yang terus diperdebatkan hingga sekarang.
Pertemuan di semifinal 2026 akan menjadi duel keenam mereka di Piala Dunia sekaligus pertemuan pertama sejak fase grup edisi 2002. Inggris mempunyai catatan hasil lebih baik dalam lima pertemuan sebelumnya, tetapi Argentina memegang dua kemenangan paling menyakitkan bagi publik sepak bola Inggris: perempat final 1986 dan babak 16 besar 1998.
Untuk mengikuti perkembangan kompetisi secara menyeluruh, pembaca dapat membuka Panduan Piala Dunia 2026 serta Jadwal Babak 16 Besar Piala Dunia 2026.
Ringkasan Pertemuan Inggris dan Argentina di Piala Dunia
Sebelum semifinal 2026, Inggris dan Argentina telah bertemu lima kali di Piala Dunia. Inggris mencatatkan tiga kemenangan, Argentina menang sekali dalam waktu normal, sementara satu pertandingan berakhir imbang sebelum dimenangkan La Albiceleste melalui adu penalti.
| Tahun | Babak | Hasil |
|---|---|---|
| 1962 | Fase grup | Argentina 1-3 Inggris |
| 1966 | Perempat final | Inggris 1-0 Argentina |
| 1986 | Perempat final | Argentina 2-1 Inggris |
| 1998 | Babak 16 besar | Argentina 2-2 Inggris, Argentina menang penalti 4-3 |
| 2002 | Fase grup | Argentina 0-1 Inggris |
| 2026 | Semifinal | Belum dimainkan |
Di atas kertas, Inggris unggul dalam jumlah kemenangan. Namun, angka tersebut tidak cukup menggambarkan besarnya emosi yang muncul setiap kali kedua negara bertemu.
Setiap pertandingan memiliki cerita tersendiri. Duel 1966 dikenang karena kartu merah kontroversial Antonio Rattín. Pertandingan 1986 menghasilkan dua gol Diego Maradona yang mewakili kontroversi dan kejeniusan dalam waktu bersamaan. Pertemuan 1998 diwarnai kartu merah David Beckham, sedangkan duel 2002 menjadi panggung penebusan bagi sang gelandang Inggris.
Laga Inggris vs Argentina jarang hanya menghasilkan skor. Pertandingan ini hampir selalu meninggalkan cerita.
Piala Dunia 1962: Pertemuan Pertama di Turnamen Dunia

Inggris dan Argentina pertama kali bertemu di Piala Dunia pada 2 Juni 1962. Pertandingan fase grup tersebut dimainkan di Estadio El Teniente, Rancagua, Chile.
Inggris menang 3-1 melalui gol Ronald Flowers, Bobby Charlton, dan Jimmy Greaves. Argentina baru memperkecil ketertinggalan pada menit-menit akhir melalui José Sanfilippo.
Pada saat itu, hubungan sepak bola kedua negara belum mempunyai tingkat ketegangan seperti yang dikenal sekarang. Pertemuan tersebut lebih banyak dipandang sebagai duel antara gaya sepak bola Inggris yang direct dan permainan teknis Amerika Selatan.
Hasil itu membantu Inggris lolos dari fase grup. Argentina gagal melanjutkan perjalanan ke fase berikutnya setelah hanya menempati posisi ketiga dalam grup.
Duel 1962 menjadi fondasi statistik rivalitas ini. Akan tetapi, identitas panas Inggris vs Argentina baru benar-benar terbentuk empat tahun kemudian.
Piala Dunia 1966: Kartu Merah yang Mengubah Sejarah
Pertemuan kedua berlangsung pada perempat final Piala Dunia 1966 di Wembley. Inggris berstatus tuan rumah dan sedang memburu gelar dunia pertama dalam sejarah mereka.
Pertandingan berjalan keras, penuh protes, dan minim ruang bagi kedua tim. Momen paling kontroversial terjadi ketika kapten Argentina, Antonio Rattín, dikeluarkan oleh wasit asal Jerman, Rudolf Kreitlein.
Komunikasi menjadi bagian dari kontroversi tersebut. Rattín mengaku tidak memahami alasan pengusirannya, sementara wasit tidak berbicara bahasa Spanyol. Karena sistem kartu belum digunakan, keputusan hanya disampaikan secara verbal dan melalui gestur. Rattín sempat menolak meninggalkan lapangan sehingga pertandingan terhenti selama beberapa menit.
Insiden tersebut ikut mendorong gagasan penggunaan kartu kuning dan kartu merah agar keputusan disiplin dapat dipahami secara universal. Sistem kartu kemudian diperkenalkan FIFA untuk mengurangi kebingungan komunikasi antara wasit dan pemain.
Inggris akhirnya menang 1-0 melalui gol Geoff Hurst. Mereka kemudian menyingkirkan Portugal di semifinal dan mengalahkan Jerman Barat pada final untuk meraih satu-satunya gelar Piala Dunia dalam sejarah mereka.
Bagi Inggris, pertandingan itu menjadi salah satu langkah menuju kejayaan. Bagi Argentina, duel tersebut menjadi sumber rasa ketidakadilan yang bertahan selama bertahun-tahun.
Piala Dunia 1986: Tangan Tuhan dan Gol Abad Ini
Dua puluh tahun setelah pertemuan di Wembley, Inggris dan Argentina kembali berhadapan pada perempat final Piala Dunia 1986 di Estadio Azteca, Mexico City.
Pertandingan itu berlangsung empat tahun setelah Perang Falkland atau Malvinas. Walaupun para pemain bertanding dalam konteks olahraga, latar belakang politik membuat atmosfer pertandingan jauh lebih emosional.
Semua perhatian akhirnya tertuju kepada Diego Maradona.
Pada menit ke-51, Maradona mengejar bola lambung di dalam kotak penalti dan melompat bersama kiper Inggris, Peter Shilton. Maradona menggunakan tangannya untuk menyentuh bola ke gawang, tetapi perangkat pertandingan tidak melihat pelanggaran tersebut.
Gol tetap disahkan dan kemudian dikenal sebagai “Tangan Tuhan”.
Hanya beberapa menit berselang, Maradona menciptakan salah satu gol terbaik dalam sejarah Piala Dunia. Ia menerima bola di area permainan Argentina, melewati sejumlah pemain Inggris, kemudian menaklukkan Shilton untuk membawa Argentina unggul 2-0.
Gary Lineker memperkecil ketertinggalan Inggris, tetapi Argentina mempertahankan kemenangan 2-1. La Albiceleste kemudian melaju hingga final dan menjadi juara dunia setelah mengalahkan Jerman Barat.
Dua gol Maradona tersebut terus dikenang karena mempunyai karakter yang bertolak belakang. Gol pertama lahir dari pelanggaran yang tidak terlihat. Gol kedua merupakan demonstrasi kemampuan individu yang hampir sempurna.
Dalam waktu empat menit, Maradona menjadi tokoh kontroversial sekaligus genius sepak bola.
Pertandingan 1986 menjadi titik terbesar dalam rivalitas Inggris dan Argentina. Bahkan setelah puluhan tahun berlalu, pembahasan mengenai kedua negara hampir selalu kembali kepada momen di Estadio Azteca tersebut.
Piala Dunia 1998: Michael Owen, Beckham, dan Adu Penalti
Pertemuan berikutnya berlangsung pada babak 16 besar Piala Dunia 1998 di Saint-Étienne, Prancis. Pertandingan ini kembali menghasilkan drama besar.
Argentina unggul lebih dahulu melalui penalti Gabriel Batistuta. Inggris segera membalas lewat penalti Alan Shearer sebelum Michael Owen membawa The Three Lions berbalik unggul.
Gol Owen menjadi salah satu gol paling terkenal dalam sejarah Inggris di Piala Dunia. Penyerang yang ketika itu masih berusia 18 tahun berlari melewati pertahanan Argentina sebelum melepaskan tembakan ke sudut atas gawang.
Argentina menyamakan kedudukan melalui skema tendangan bebas cerdas yang diselesaikan Javier Zanetti menjelang turun minum. Skor berubah menjadi 2-2.
Momentum pertandingan kemudian berubah pada awal babak kedua. David Beckham menerima kartu merah setelah bereaksi terhadap pelanggaran Diego Simeone. Inggris harus bermain dengan sepuluh pemain selama sisa pertandingan.
Meski kekurangan pemain, Inggris mampu bertahan hingga waktu normal dan babak tambahan berakhir. Pemenang akhirnya harus ditentukan melalui adu penalti.
Kiper Argentina Carlos Roa menggagalkan tendangan Paul Ince dan David Batty. Argentina memenangkan adu penalti 4-3 dan melaju ke perempat final.
Beckham menjadi sasaran kritik besar di Inggris setelah pertandingan. Kartu merah tersebut dianggap sebagai salah satu penyebab tersingkirnya The Three Lions, meskipun Inggris masih mampu memaksakan adu penalti dengan sepuluh pemain.
Bagi Argentina, kemenangan itu menjadi pembuktian mental. Bagi Inggris, pertandingan tersebut menambah daftar kegagalan menyakitkan melalui adu penalti.
Piala Dunia 2002: Momen Penebusan David Beckham

Empat tahun setelah kartu merah di Prancis, David Beckham kembali menjadi pusat cerita ketika Inggris menghadapi Argentina pada fase grup Piala Dunia 2002.
Pertandingan dimainkan di Sapporo Dome, Jepang. Tekanan besar mengiringi laga karena kedua tim tergabung dalam grup sulit bersama Swedia dan Nigeria.
Inggris mendapatkan penalti setelah Michael Owen dijatuhkan di dalam kotak terlarang. Beckham maju sebagai eksekutor dan melepaskan tendangan keras ke tengah gawang untuk membawa Inggris unggul 1-0.
Gol tersebut mempunyai arti personal bagi Beckham. Setelah menjadi simbol kegagalan Inggris pada 1998, ia kini mencetak gol penentu kemenangan melawan lawan yang sama.
Inggris mempertahankan keunggulan hingga pertandingan berakhir. Kemenangan tersebut membantu The Three Lions lolos ke babak 16 besar, sementara Argentina akhirnya tersingkir di fase grup setelah bermain imbang melawan Swedia pada pertandingan terakhir.
Pertemuan 2002 juga menjadi duel terakhir Inggris dan Argentina di Piala Dunia sebelum 2026.
Pertemuan Terakhir Sebelum Piala Dunia 2026
Setelah Piala Dunia 2002, Inggris dan Argentina sempat bertemu dalam pertandingan persahabatan di Jenewa pada November 2005.
Argentina dua kali memimpin, tetapi Inggris membalikkan keadaan dan menang 3-2 melalui dua gol Michael Owen pada menit-menit akhir. Pertandingan tersebut menjadi pertemuan terakhir kedua negara di level senior sebelum semifinal 2026.
Lionel Messi tidak tampil dalam pertandingan itu karena menjalani hukuman setelah menerima kartu merah pada debut internasionalnya beberapa bulan sebelumnya. Artinya, semifinal 2026 akan menjadi pengalaman pertama Messi menghadapi tim nasional Inggris.
Absennya pertemuan selama lebih dari 20 tahun membuat rivalitas ini terasa berbeda. Tidak ada pemain dari pertandingan 2005 yang masih menjadi bagian utama skuad Inggris. Argentina pun telah mengalami pergantian beberapa generasi.
Meski demikian, nama kedua negara masih membawa ingatan tentang Maradona, Beckham, Owen, Simeone, Rattín, dan berbagai kontroversi sebelumnya.
Mengapa Inggris vs Argentina Disebut Rivalitas Besar?
Inggris dan Argentina bukan negara bertetangga. Mereka juga tidak berada dalam konfederasi yang sama sehingga sangat jarang bertemu di kompetisi resmi.
Justru karena jarang terjadi, setiap pertandingan mempunyai bobot lebih besar.
Rivalitas ini berkembang melalui gabungan beberapa faktor: keputusan kontroversial pada 1966, latar belakang politik sebelum pertandingan 1986, dua gol Maradona, kartu merah Beckham pada 1998, serta kemenangan penebusan Inggris pada 2002.
Dalam lima pertandingan Piala Dunia sebelum 2026, kedua negara menciptakan delapan gol untuk Inggris dan lima gol untuk Argentina. Namun, pengaruh historisnya jauh lebih besar daripada jumlah gol tersebut.
Keduanya juga pernah saling menyingkirkan dalam perjalanan menuju gelar dunia. Inggris mengalahkan Argentina sebelum menjadi juara pada 1966. Argentina menyingkirkan Inggris sebelum mengangkat trofi pada 1986.
Itulah alasan sejarah selalu menjadi bagian dari pembahasan ketika kedua tim bertemu.
Semifinal 2026 Menjadi Babak Baru
Pertandingan di Atlanta akan menjadi pertemuan pertama Inggris dan Argentina pada babak semifinal Piala Dunia. Inggris datang setelah menyingkirkan Norwegia 2-1, sedangkan Argentina lolos melalui kemenangan 3-1 atas Swiss setelah babak tambahan.
Pertandingan dijadwalkan berlangsung pada Rabu, 15 Juli 2026 waktu Atlanta atau Kamis, 16 Juli 2026 dini hari WIB. Pemenangnya akan melaju ke final dan menghadapi pemenang pertandingan Prancis vs Spanyol.
Bagi Inggris, laga ini menjadi kesempatan untuk mencapai final Piala Dunia pertama sejak 1966. Bagi Argentina, pertandingan tersebut membuka peluang mempertahankan gelar juara dunia.
Pembaca dapat mengikuti informasi turnamen, jadwal, dan berita terbaru melalui Platform Utama BC Game. Sementara itu, pembahasan mengenai pasar pertandingan tersedia dalam halaman Taruhan Piala Dunia 2026.
Sejarah dapat membantu menjelaskan tekanan dan atmosfer pertandingan, tetapi tidak dapat menentukan hasil. Skuad, pelatih, kondisi pemain, dan pendekatan taktis pada 2026 sangat berbeda dari era Maradona, Beckham, atau Rattín.
Namun, satu pola tetap bertahan: pertandingan Inggris vs Argentina hampir tidak pernah terasa biasa.
Rivalitas Lama, Generasi Baru
Semifinal Piala Dunia 2026 akan menghadirkan pemain dari generasi yang sama sekali berbeda. Jude Bellingham, Harry Kane, Lionel Messi, Julián Álvarez, dan Lautaro Martínez tidak memikul tanggung jawab atas kontroversi masa lalu.
Mereka tetap akan memasuki pertandingan dengan bayang-bayang sejarah yang besar.
Pendukung Inggris akan mengingat Tangan Tuhan dan kekalahan adu penalti 1998. Pendukung Argentina akan mengingat kartu merah Rattín di Wembley serta kemenangan Maradona di Mexico City.
Laga di Atlanta berpeluang menambahkan tokoh, gol, dan kontroversi baru dalam perjalanan rivalitas yang telah berlangsung sejak pertemuan pertama kedua negara pada 1951.
Dari kemenangan Inggris pada 1962 hingga duel penebusan Beckham pada 2002, setiap pertemuan Piala Dunia mempunyai identitas yang berbeda. Semifinal 2026 kini menunggu untuk menentukan bab berikutnya.
Lima pertemuan telah membentuk sejarah. Pertemuan keenam akan menentukan siapa yang melangkah ke final dunia.

Teddy Rudiawan adalah seorang Penulis Artikel BC Game yang berpengalaman, berspesialisasi dalam analisis olahraga dan sepak bola, dikenal mampu mengubah data pertandingan yang kompleks menjadi insight menarik dan mudah dipahami, membantu pembaca menangkap dinamika permainan, nilai taruhan, serta tren performa dengan jelas dan tepat, sekaligus mencerminkan energi serta karakter data-driven dari brand BC Game.